10 Refleks pada Bayi yang Harus Anda Cermati dan Ketahui

10 Refleks pada Bayi yang Harus Anda Cermati dan Ketahui

Refleks merupakan gerakan yang memiliki sifat involunteer atau tidak disengaja oleh bayi. Refleks yang terjadi secara normal pada bayi menunjukkan bahwa Ia memiliki aktivitas maupun koordinasi otak dan persarafan yang baik dan normal. Beberapa refleks pada bayi ini muncul dan akan menghilang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan usianya.

Berikut akan disajikan informasi mengenai berbagai refleks pada bayi, baik refleks normal maupun yang tidak normal sebagai salah satu gejala penyakit persyarafan pada anak. Check this out!

Refleks Normal dan Tidak Normal Pada Bayi, Cek dan Periksalah

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat berbagai refleks atau gerakan involunter di bawah sadar yang terjadi pada bayi. Terdiri atas 2 jenis yakni refleks normal yang wajib untuk dimiliki oleh bayi baru lahir dan akan menghilang seiring dengan pertumbuhan usianya. Berikut beberapa refleks normal ada bayi beserta penjelasan detailnya:

1. Rooting reflex / Refleks Mencari Puting

Refleks mencari puting merupakan sebuah gerakan refleks bayi menolehkan kepalanya ketika pipinya disentuh dengan tangan pemeriksa. Gerakan menoleh inipun harus sesuai dengan sentuhan tangan pemeriksa. Bila pipi kanan yang di sentuh, maka kepalanya akan menoleh ke sebelah kanan. Begitupun sebaliknya.

Seorang Ibu dapat dengan mudah melaksanakan pengecekan terhadap refleks ini. Dengan cara menempelkan puting pada bagian sisi pipi kanan atau kiri bayi, maka secara normal bayi akan menoleh menuju arah puting Ibu. Dan bersiap untuk melaksanakan refleks normal kedua yakni menghisap ASI Ibu. Refleks ini akan menetap hingga usia bayi mencapai 3 – 4 bulan.

2. Sucking reflex / Refleks Menghisap

Refleks menghisap merupakan sebuah gerakan refleks yang terjadi ketika langit langit mulut bayi atau palatum bayi di sentuh oleh puting payudara Ibu. Secara otomatis bayi akan membuka mulutnya dan menghisap ASI dari puting Ibu. Refleks ini juga merupakan salah satu refleks yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan produksi ASI Ibu selain dengan mengkonsumsi booster ASI dari makanan.

Refleks ini berkembang semenjak bayi berada dalam kandungan yakni pada usia 32 – 36 minggu kehamilan. Bayi yang dilahirkan prematur biasanya akan kesulitan untuk melaksanakan refleks ini. Sehingga membutuhkan alat bantu berupa selang makan yang dimasukkan melalui hidungnya.

3. Moro reflex / Refleks Moro

Merupakan refleks normal yang terjadi ketika bayi mengalami kondisi terkejut, atau kondisi terjatuh. Yakni kaki tangannya akan membuka lebar dan merentang (abduction) kemudian menutup kembali (adduction). Tidak jarang bayi akan menangis setelah melaksanakan dua gerakan sebelumnya.

Gerakan ini akan menetap hingga usia bayi mencapai 3 – 4 bulan. Ketidak adaan refleks ini menandakan terjadinya kecacatan pada syaraf pusat bayi, namun jika refleks ini menetap hingga usia bayi 5 bulan, maka Anda perlu mencurigai terjadinya kecacatan syaraf seperti cerebral palsy.

Cerebral palsy terjadi akibat adanya kecelakaan pada area otak maupun adanya kondisi ketidaksempurnaan pembentukan sel dan syaraf di otak selama bayi dalam kandungan. Mengakibatkan tidak adanya koordinasi yang sesuia dan baik antara otot dan otak. Malnutrisi selama kehamilan menjadi salah satu faktor resiko terjadinya cerebral palsy. Ketahui nutrisi dan vitamin yang baik selama masa kehamilan untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik sempurna janin di dalam kandungan.

4. Palmar Grasp Reflex / Refleks Menggenggam

Refleks menggenggam merupakan sebuah refleks yang akan bertahan hingga usia bayi mencapai 5 hingga 6 bulan. Cukup mudah untuk melaksanakan pengecekan refleks ini, yakni dengan meletakkan barang atau jemari Anda pada genggaman bayi, maka secara otomatis bayi akan menggenggam barang atau jari Anda tersebut.

Bila refleks ini menetap hingga dewasa, maka dapat dipastikan terdapat sebuah kelainan persyarafan yang disebut dengan anterior celebral artery syndrome. Terjadi ketika terdapat sumbatan pada pembuluh darah yang mengaliri otak bagian depan.

5. Plantar Reflex / Babinski

Refleks babinski terjadi ketika Anda menyentuh atau menggosok telapak kaki bayi, maka secara tidak sadar jempol mengarah ke atas dan jari jemari kaki bayi akan terbuka. Refleks ini merupakan refleks yang normal pada bayi, namun apabila terjadi pada dewasa maka menjadi sebuah pertanda terjadinya kelainan syaraf.

6. Stepping Reflex / Refleks Melangkah

Refleks ini merupakan refleks normal yang terjadi ketika bayi diposisikan berdiri, maka kakinya akan berusaha untuk menapak tanah meski kakinya belum sanggup untuk menapak dan menyangga tubuh mungilnya. Refleks ini menetap hingga usia 2 – 3 bulan kemudian menghilang. Dapat muncul kembali pada usia 10 – 12 bulan disaat bayi siap untuk memulai berjalan.

7. Tonic Neck Reflex

Refleks ini muncul ketika kepala bayi menoleh menuju arah samping kanan maupun kiri. Maka tangan yang berada sisi kepala bayi menoleh akan membentuk lurus dan telapak tangannya terbuka. Sedangkan pada tangan di area sisi yang sebaliknya akan menekuk dan menggenggam.

8. Kaku Kuduk

Kaku kuduk merupakan sebuah refleks patologis atau tidak normal dan dapat terjadi ketika terdapat infeksi pada bagian persyarafan pusat yakni otak dan selaput pembungkus otak. Dalam istilah medis hal ini dikenal dengan kondisi meningitis.

Pemeriksaan refleks ini haruslah dilaksanakan oleh tenaga medis terkait seperti Dokter maupun perawat. Refleks ini dapat diperiksa dengan cara menempatkan tangan Anda dibawah kepala bayi yang sedang tidur terlentang. Kemudian tekuk kepala bayi hingga dagunya menyentuh dada.

Kaku kuduk dinyatakan positif apabila dagu tidak dapat menyentuh dada dan terasa seperti adanya tahanan. Selain tanda ini, biasanya bayi juga akan menunjukkan gejala seperti muntah, demam tinggi lebih dari 38 derajat celcius, nafas cepat dan bayi cenderung fotofobia atau sensitif terhadap cahaya.

9. Respon Traksi / Head Lag

Respon ini merupakan respon atau refleks pada area otot leher. Pada normalnya bayi akan memiliki kemampuan kontrol terhadap kepala dan lehernya atau dikenal dengan istilah awam menyangga leher pada usia 3 bulan. Sebelum mencapai usia 3 bulan, ketika kita mencoba mengangkat bayi tanpa menyangga kepalanya maka akan tampak kepalanya terdorong ke belakang (head lag).

Apabila kondisi head lag ini menetap hingga usianya lebih dari 3 bulan, maka dapat dipastikan bayi mengalami salah satu gangguan antara hipotoni (kelemahan otot terutama otot leher), kelainan syaraf pusat maupun terjadinya prematurasi yakni kondisi cacat diakibatkan lahir dengan kondisi kurang bulan.

10. Swimming Reflex / Refleks Berenang

Refleks ini merupakan refleks yang paling unik diantara refleks yang lain. Gerakan bayi akan nampak seperti berenang dengan gaya dada ketika bayi dipegang dengan posisi horizontal atau mendatar di atas permukaan meja atau alas yang datar maupun di atas permukaan air.

Gerakan ini dapat diamati setelah bayi berusia 2 minggu hingga usianya mencapai 5 bulan. Namun perlu Anda ketahui bahwa refleks berenang ini bukanlah merupakan pertanda bahwa bayi dapat berenang dan mampu menahan nafasnya di dalam air.

American Academy of Pediatrics (AAP) tidak menyarankan program berenang pada bayi yang berusia kurang dari 1 tahun. Karena secara normal bayi belum siap untuk menyangga kepalanya di atas air dan paru parunya masih belum matang secara sempurna.

Demikian telah tersaji informasi mengenai berbagai refleks bayi yang normal atau fisiologis maupun refleks bayi yang tidak normal atau patologis beserta beberapa cara pemeriksaannya. Cara tepat untuk melaksanakan pemeriksaan ini adalah bukan dilaksanakan oleh Anda secara mandiri, namun datanglah pada Dokter Spesialis Anak, perawat atau bidan yang memang memahami berbagai perbedaan tiap refleks yang normal maupun tidak normal. Semoga bermanfaat!