4 Syarat menuju keselamatan hidup

4 Syarat menuju keselamatan hidup

“Demi waktu, sungguh manusia pasti berada dalam kerugian, kecuali : Mereka yang beriman, beramal salih & saling berpesan agar mentaati kebenaran dan saling nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS 103: 1-3).
Dalam Surat Al-Ashr yang demikian singkat padat ini, Allah menegaskan bahwa manusia dipastikan merugi dan menyesalkan jatah kesempatan hidupnya kecuali bila ia melakukan dan menjalani 4 hal:

1. Beriman
Iman merupakan syarat pertama bila seseorang ingin selamat dalam menempuh hidup ini. Iman tentu memuat banyak pengertian, namun diantara dimensi terpenting dari keimanan adalah persoalan tujuan hidup. Pada masyarakat manusia, sangat banyak tujuan hidup itu dan tentu tidak semuanya benar, banyak diantara tujuan-tujuan hidup itu sesungguhnya “palsu” & menyesatkan. Tujuan hidup yang benar adalah menuju Allah dan bertaqwa kepadaNya, dariNya kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali. Taqwa dapat diartikan secara bebas, hidup dengan menjalani apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarangNya. Bila kita, mengenang kisah melodrama nenek moyang kita Nabi Adam a.s yang diusir dari ketinggian syurga lalu turun ke bumi, maka hidup dapat diibaratkan perjalanan pendakian kembali menemukan “syurga yang hilang”. Banyak analogi tema pulang kembali yang bisa kita jadikan ilustrasi, seorang anak kecil yang menangis lalu didekap ibunya, ia lalu tenang, seakan mengenangkan kembali peristiwa ketika ia masih berada di alam kandungan dimana satu-satunya alunan musik terindah yang terdengar hanya denyut jantung ibundanya. Orang-orang yang pergi merantau, akan didera “home sick”, untuk rindu mudik ke kampung halaman. Pulang itu bukanlah fenomena fisik melainkan gejala psikologis, kita berbahagia bila kembali pulang ke rumah, dan diantara tema pulang yang paling hakiki tentu adalah dorongan ruhani untuk dapat kembali pulang keharibaan Ilahi Rabby. Siapa yang tidak dapat menemukan jalan pulang ia disebut tersesat, dan siapa yang tersesat ia tentu tidakkan dapat berbahagia. Orang barat punya pepatah “home sweet home” rumah adalah kediaman yang paling menyenangkan, Nabi mengatakan “Rumahku adalah syurgaku”. Keimanan berkaitan dengan “jalan” pulang yang menyelamatkan. Setiap hari kita bermohon pada Tuhan untuk dapat menemukan jalan yang lurus dan bermohon dijauhi dari jalan yang dimurkai (jalan ilmu tanpa amal) & jalan yang tersesat (jalan amal tanpa ilmu).

Dimensi penting lainnya dari keimanan yang masih berkait dengan tema pulang adalah sebuah visi hidup dimana terpatri sebuah cita-cita untuk mencapai kebahagian hidup yang menembus sekat-sekat teresterial duniawi. Orang beriman memiliki cita-cita berdimensi transendental yakni menggapai kebahagiaan pasca kematian nanti. Bagi orang beriman, hidup tidak berhenti setelah kematian, justru kematian merupakan sebuah pintu transisi menjalani pengalaman hidup yang sebenar-benarnya. Selain keimanan, tidak ada suatu ideologi, filsafat, isme apapun di dunia ini yang mengajarkan pandangan pada manusia bahwa setelah mati nanti ada cita-cita yang harus digapai. Penekanan terhadap orientasi kehidupan setelah mati malah merupakan tujuan sejati dari cita-cita seorang beriman “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, namun jangan kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah…”(QS 28:77). Carilah yang pasti tapi jangan abaikan yang mungkin, tanamlah padi maka niscaya rumput akan ikut tumbuh.

Keimanan yang dimiliki ini haruslah lahir dari ketulusan hati tanpa ada sebuah paksaan. Tuhan tidak menghendaki orang berkeyakinan palsu secara terpaksa, “Tidak ada paksaan dalam beragama, karena sudah sangat jelas mana jalan yang benar dan mana yang sesat” (QS 2: 256). …” mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS 98:5). Seseorang harus dibebaskan memilih apa yang diyakininya karena toh pertanggung jawaban hidup setelah kematian nanti bersifat pribadi. Di kehidupan akhirat tidak ada per-calo-an, persekawanan, persekutuan, tidak ada pikul memikul dosa namun disana kelak tiap pribadi akan mengalungkan amal perbuatannya masing-masing untuk mereka pertanggungjawabkan dihadapan mahkamah Ilahi. Karena itu sekali lagi setiap orang bebas memutuskan jalan hidupnya, dengan prinsip resiko dipikul penumpang. Tuhan mengatakan “Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong”. (QS 2;123).

Keimanan yang terpancang pada diri seseorang akan menginspirasi kedalam bathin sebuah “bisikan” tentang apa yang baik yang harus dilakukan, sedang pada pergaulan keluarnya, iman akan mendorong aspirasi, yakni suatu dorongan spiritual untuk mengajak orang disekitarnya agar melakukan apa yang dianggap baik oleh nilai keimanan tersebut. Namun meski keimanan itu kita peroleh dalam keheningan malam lewat perenungan suci, namun iman itu bersifat sangat personal. Kita tak bisa mengukurnya, hanya Tuhan yang tahu kebenaran keimanan seseorang. Ketika ada seseorang tawanan perang yang terdesak lalu mengucapkan kalimat keimanan, tapi lalu disangkal oleh seorang sahabat bahwa si org tsb berdusta demi menyelamatkan diri (dgn proklamasi keimanannya), Nabi malah mengatakan “Aku tidak diutus untuk membelah isi hati manusia!”. Orang yang mengklaim dirinya beriman harus siap diuji dalam panggung sosial. Karena risalah Tuhan ini bukanlah sebuah ajaran kebatinan semata yang hanya bersemayam dialam ide. Iman yang personal itu harus diterjemahkan dalam bingkai sosial lewat amal kebajikan. Sangat menarik di dalam Al-Qur’an, kata iman kerap digandeng dengan amal salih (perbuatan baik) “Iman dan amal shalih”.

2. Beramal shalih.
Kebaikan adalah konsekwensi dari keimanan, sangat banyak keterangan bahwa keimanan tanpa bukti konkrit misalnya keperdulian kepada persoalan keadilan sosial merupakan sikap dusta belaka (lihat QS 107:1-7). Rasulullah saw sendiri menyederhanakan seluruh misi risalahnya dengan kalimat “Aku ini diutus untuk menyempurnakan budi pekerti luhur”. Manusia, tidak diperkenankan menjalani kehidupan ini dengan seenaknya saja, orang hidup harus memiliki komitmen, dan keimanan berkaitan dengan komitmen atau i’tikad yang baik. Keselamatan tidak didapat hanya dari sekedar i’tikad baik saja, tapi i’tikad itu baru maujud bila di fungsikan dalam bingkai sosial. Orang harus membangun hubungan vertikalnya, yakni kesadaran yang disandarkan pada Yang Maha Tinggi Sang Pencipta Penguasa alam semesta, namun dibalik itu juga harus membina hubungan horizontalnya; yakni upaya menegakkan keadilan dan memuliakan peradaban diantara sesama mahkluk Tuhan di dunia ini. Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa itu merupakan wujud etik, Dzat yang menghendaki hamba-hambaNya kebaikan dan perbuatan baik. oleh karena itu Dia tidak didekatkan lewat bujukan atau sesaji atau upacara-upacara suci (sakramen) melainkan lewat perbuatan baik (amal shalih). Qur’an mengatakan “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS 18:110). Tapi perbuatan baik (amal shalih) ini masih mengandung problem interpretasi, mungkin saja kita memahami sesuatu sebagai hal yang benar padahal sebetulnya keliru. Mungkin kita memahami sesuatu itu sebagai bermanfaat padahal ternyata membahayakan. Manusia, dalam doktrin Islam disebutkan sebagai mahkluk yang hanief, yang kodrat aslinya cenderung pada kebaikan. Ia terlahir suci tanpa dibebani kesalahan leluhurnya. Oleh karena itu setiap orang memiliki potensi kemungkinan untuk benar dan baik, maka dalam perspektif ini, setiap orang berhak menyatakan pendapatnya. Namun Nabi juga mengingatkan akan sisi ketidaksempurnaan diri bahwa “setiap anak cucu Adam adalah pembikin kesalahan”. Manusia cenderung melihat suatu kebaikan secara subyektif dan beresiko tercemar oleh dikte keinginan pribadinya (hawa nafsu). Kita cenderung melihat sesuatu itu baik bila itu cocok dengan keinginan kita. Hawa nafsu ini sering berperan sebagai tiran yang menjajah pertimbangan akal sehat kita, seolah-olah segala pendapat dan fikiran kita selalu benar dan kita tak pernah butuh pandangan dari pihak lain. Maka beriman & beramal salih saja tidaklah cukup agara kita bisa selamat, kita perlu second opinion, input, referensi-referensi dari luar. Islam sebagai jalan kebenaran, tidak pernah mengizinkan orang merasa super dalam melihat dirinya sendiri. Seluruh amalan Islam tampil dalam wujud kolektif (kebersamaan), karena Islam bukanlah ajaran individualisme. Orang tidak mungkin dapat menemukan kebenaran secara sendirian, maka dalam masyarakat manusia harus ada suatu mekanisme yang bebas untuk saling mengingatkan tentang apa yang baik dan benar.

3. Saling Bewasiat tentang kebenaran.
Perbuatan baik itu tentunya nanti menyangkut pada orang lain, maka wajar saja sebetulnya bila orang lain di luar kita (yang dinasihatkan itu) punya hak berpartisipasi atau malah intervensi menyangkut persoalan apa yang dianggap baik dan benar itu. Sebagaimana setiap orang berhak menyatakan pendapatnya, maka setiap orang juga harus bersedia mendengar bagaimana pandangan orang lain. Suatu prinsip penting dalam Islam yakni ajaran syura (musyawarah) menegaskan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki kesempatan yang sama untuk saling bersuara. Syura berakar dari ajaran luhur bahwa manusia layak didengar pendapatnya. Manusia memiliki sisi keburukan dan kebaikan, oleh karena itu kumpulan dari pemikiran manusia lebih besar potensi kemungkinan menuju pada kebaikan. Qur’an sendiri mendefenisikan secara sangat “manusiawi” tentang siapa orang yang mendapat petunjuk (hidayah) itu. “Berilah kabar gembira kepada hamba-hambaKu, yaitu mereka yang suka mendengarkan pendapat-pendapat lalu mereka memilih apa yang paling baik diantaranya. Merekalah orang yang dianugerahi hidayah oleh Allah dan merekalah orang-orang yang berfikiran mendalam (ulil albab)” (QS 39:18). Menurut ayat tersebut, petunjuk Tuhan itu akan mudah diterima bagi orang yang berjiwa terbuka (inklusif), yang bersedia menginput berbagai informasi lalu menggunakan nalar kritis untuk memfilter mana input yang terbaik yang layak diterimanya. Orang muslim dididik untuk komit terhadap pandangan yang diyakininya, tapi disisi lain ia juga harus memiliki reserve (sikap cadangan) untuk siap dikoreksi kalau-kalau pandangan yang selama ini ia anut ternyata keliru. Imam Abu Hanifah dalam debat-debatnya selalu mengatakan “Pendapat kami itu benar tapi ada saja kemungkinan untuk keliru, dan pendapat orang lain itu salah tapi ada saja kemungkinan benar”. Tafsiran terhadap suatu pemahaman itu bersifat relatif, karena hidup itu sendiri tidak akan terlepas dari upaya penafsiran. Relatif disini bukan berarti sikap pembenaran terhadap ajaran relativisme yang tidak memiliki sikap atau pendirian yang harus dibela atau secara fleksibelnya dengan mudahnya membenarkan paham-paham yang berseberangan. Tapi relatif yang dimaksud adalah sebuah sikap untuk selalu open mind dan bermental siap dikoreksi bila argumentasi yang dipegang itu kemudian hari terbukti salah dan keliru. Itulah mengapa dalam tradisi intelektual Islam; setiap diskusi, tanya jawab, tulisan-tulisan selalu ditutup dengan kata “wallahu a’lam bis-shawab” (Tuhanlah yang paling tahu jawaban pastinya). Atau para sahabat sering mengatakan “Allah & RasulNyalah yang paling tahu”, suatu etika berendah hati untuk tidak menyatakan bahwa kita tahu segala-galanya. Namun banyak orang tidak tahan “kalah” beragumentasi, suaranya tidak terakomodasi dalam suatu musyawarah, terlalu berat untuk mengakui kekeliruan. Orang cenderung lebih mudah melihat kesalahan orang lain betapapun kecilnya, ketimbang kesalahan dirinya sendiri betapapun besar dan terang benderang kesalahan tersebut, ibarat pepatah kuman diseberang kelihatan- gajah dipelupuk mata tak terlihat. Oleh karena itu sikap saling berpesan soal kebenaran mutlak membutuhkan “kesabaran”.

4. Saling Bepesan dalam kesabaran
Perjuangan menegakkan yang benar pasti membutuhkan kesabaran. Tidak jarang kebenaran yang diperjuangkan itu realisasi terwujudnya lebih lama dari umur orang yang memperjuangkannya. Orang yang berjuang untuk kebenaran ibarat menanam pohon, yang mungkin buahnya tidak ia nikmati saat ia hidup. Tidak ada yang instant, apalagi bila menyangkut “human investment” atau perubahan suatu tatanan kemasyarakatan. Seorang pedadogis akan mengatakan, “jika kamu mau menanam jagung maka tunggu hasilnya 3 bulan kemudian, jika pilihan bercocok tanammu adalah pohon kelapa maka nantikan 5 tahun mendatang, tapi bila yang dibenih adalah Human Investment, mendidik manusia, menegakkan keadilan dsb maka bersabarlah dalam satu generasi”. Begitu pula jalan menuju keselamatan sejati yang beralamat dialam keabadian akhirat nanti pasti tidak terlepas dari dimensi kesabaran. Kesabaran menyangkut konsistensi, setia terhadap proses dan perjuangan hingga menuju tempat yang diharapkan.

=========

Tuhan kerap bersumpah atas nama-nama momen waktu yang dimiliki manusia, demi subuh, demi fajar, demi matahari sepenggalah naik, demi siang, demi malam dan demi waktu untuk menegaskan betapa bahwa waktu merupakan salah satu hal penting bagi hidup kita yang tidak boleh tersia-siakan begitu saja. Waktu terus mengalir dan tidakkan pernah kembali, waktu merupakan ruang kesempatan untuk mengisi dengan investasi-investasi kebaikan. Hidup juga dapat dimaknai sebagai sebuah kesempatan berbuat baik, maka jangan kita lalaikan. Nabi berpesan ingatlah 5 hal sebelum datang 5 hal; mudamu sebelum tuamu, lapangmu sebelum masa sibukmu, kayamu sebelum miskinmu, sehatmu sebelum masa sakitmu dan hidupmu sebelum datang kematianmu. Manusia telah diberi anugerah tinggi untuk dapat menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri dan Tuhan telah memberikan tools (instrument) yang sempurna agar Ia dapat menemukan jalan yang sejati itu. Tuhan menganugerahkan suatu kecenderungan instingtif fitrah yang hanief yang akan selalu condong pada kebenaran, Dia mengkaruniakan indera yang membuat kita bisa melihat dan mendengar segala rupa warna irama duniawi, dikaruniakan kita akal yang mampu memilah mana yang benar dan salah. Tidak berhenti disana, Tuhan masih menganugerahkan kita buku panduan (juklak) berupa kitab suci yang berisikan tuntunan jalan yang lurus itu dan diturunkannya juga seorang manusia “biasa” yang sangat mungkin di contoh sebagai model suri teladan.

Fabi ayyi alaa-i rabbikuma tukadzibaan. Wallahu’alam bish-shawab (Tuhan Yang Paling Tahu Kebenaran Mutlaknya).

Oleh : Ade Hashman