99 cahaya dilangit eropa “Perjalanan mencari syurga yang hilang”.

99 cahaya dilangit eropa “Perjalanan mencari syurga yang hilang”.

Saya menghabiskan waktu 2 hari saja membaca novel perjalanan setebal 412 halaman, berjudul “99 cahaya di langit Eropa” karya Hanum Rais & Rangga Almahendra, karena kisahnya begitu memikat. Ditulis dengan bahasa mengalir, alur yang sistematik dengan klimak cerita yang dibuat “happy ending” dan penuh pesan inspiratif. Hanum dan Rangga (HR) berhasil menjadi “guide” bagi para pembaca & membuat pembaca serasa terlibat dalam sebuah ziarah intelektual menjelajahi tempat-tempat penting di 4 negara Eropa. 99 cahaya di langit Eropa, sebuah kisah yang tidak hanya menyuguhkan betapa indahnya landscape & kota-kota di Wina Austria, Paris, Cordova, Granada, dan Istambul tapi juga sebuah penelusuran mencari jejak-jejak warisan peradaban Islam yang tersisa disana. Penuturan Hanum menghadirkan perasaan “bangga sekaligus perasaan yang pedih menggetirkan hati”.

Bangga karena, Islam dahulu bukan saja hadir sebagai sebuah doktrin teologi ansich, namun pernah nyata hidup dalam urat nadi sejarah sebagai suatu pentas peradaban kolosal yang menampilkan format ke-Rahmatan Universal. Dibawah naungan peradaban Islamlah kebinekaan terpelihara dengan baik, minoritas terlindungi dan sebuah apresiasi setinggi-tingginya terhadap budaya dan peradaban orang lain: Penting menjadi catatan bahwa dimasa Islam memegang supremasi peradaban dunia, rentang 750 M- 1350 M tidak pernah satukalipun tercatat “perang dunia” yang memakan korban kemanusiaan yang fantastis. Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan dan menyianginya dengan kasih sayang dan semangat toleransi antarumat beragama.

Jejak-jejak Toleransi

Hanum menuturkan beberapa situs penting yang menjadi saksi bisu sejarah seperti :Le Grende Mosquee de Paris, Masjid Agung Paris di pusat kota Paris pernah menjadi tempat berlindungan puluhan warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman. Dan bila melihat Mihrab masjid Mezquita di Cordova yang dibangun oleh Sultan Al Rahman, sengaja tidak dibuat persis lurus menghadap kiblat tapi lurus ke Selatan. Sultan membangun demikian karena ada gereja kecil yang telah ada lebih dahulu disitu. Sultan tak ingin menggusur gereja itu, namun tidak juga menggadaikan prinsip bahwa pada praktiknya arah sholat orang-orang dalam mihrab Mezquta tersebut tetap menghadap ke Tenggara searah jalur kiblat. Lihatlah bagaimana Maimonides seorang filosof Yahudi yang sangat dihormati dan dimuliakan karena keilmuannya, ditengah mayoritas masyarakat muslim di Cordova saat itu.

Jejak-jejak Teknologi, Seni & Budaya.

Dalam umur sebuah peradaban belum ada di dunia ini yang menandingi durasi kejayaan peradaban Islam ketika Islam memegang supremasi dunia. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah dahulu hampir 2 kali lebih besar daripada kekaisaran Roma dibawah Julius Caesar. Imperium Islam saat itu lebih megah dari kebesaran Bizantium & Romawi ketika berkuasa, terentang luas dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai samudera Atlantik tergelar dari pegunungan Kaukasus di Utara hingga tanduk Afrika di Selatan., Tidak banyak yang tahu lewat dunia Islamlah peradaban Yunani Kuna pindah tangan ke dunia Eropa, dari terjemahan para ilmuwan Islam kemudian barat mengenal filosof-filosof Yunani : Aristoteles, Plato, Socrates. Peradaban Islam menjadi jembatan penyelamat khazanah-khazanah Yunani kuna bagi dunia Eropa. Konsep keilmuan Islamlah yang kemudian mengubah logika deduksi dari filosof Yunani menjadi sebuah eksperimentasi ilmiah dan bersifat kosmopolitan.

Perasaan bangga itu muncul, karena rekam jejak kejayaan itu masih dapat ditelusuri tidak saja dipeninggalan monumental megah arsitektural yang nyata di dunia Islam, tapi juga masih terselip dalam karya seni lukisan, baju zirah, simbol-simbol tersembunyi dalam situs-situs penting di Eropa, hingga cemilan ringan semacam kopi capuccino. Marion Latimor, wanita mualaf Paris yang menjadi guide bagi Hanum mengingatkan kita pada Robert Langdon sosok fiksi karya Dan Brown yakni, Profesor ahli Iconography dan Symbologist dalam cerita “Davinci Code & Angels and Demons”. Marion dengan sangat cerdas mengungkapkan pesan-pesan tersembunyi dalam karya seni lukisan “The Virgin and The Child”, di museum Louvre, Paris.

“Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah” jelas Marion. Marion mengungkapkan alasannya menjadi mualaf justru karena mengetahui seluk beluk sejarah kota Paris, Ia tahu rahasia arsitektur situs-situs penting kota itu ketika di bangun oleh Napoleon Bonaparte dahulu.

Cordova (Spanyol) pada saat itu bergelar City of Light karena dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, di mana volume kunjungan ke perpustakaannya mencapai 400.000 kunjungan. Cordova dikenal sebagai the greatest centre of learning di Eropa. Cordova bagai bunga yang menebar harum di Eropa pada Abad pertengahan sebagaimana digambarkan oleh seorang penulis Lane-Poole sebagai the wonders of the world.

Sedih membaca novel tersebut, karena semua kisah kejaayaan itu kini hanya cerita masa lalu. Kini kenyataan dunia Islam sudah mulai memalingkan muka dari tradisi yang dahulu menjadikan mereka unggul dalam budaya dan peradaban yang menyinari dunia lebih dari 1000 tahun, yakni tradisi ilmu pengetahuan & teknologi.

Akhirnya mengutip pesan endorsement penting yang disampaikan BJ Habibie dalam pengantar buku tersebut, “Yang lebih penting bagi umat Islam sekarang ini tidak lagi sibuk membicarakan keunggulan-keunggulan yang telah dicapai umat islam pada masa lampau, atau memperdebatkan siapa yang pertamakali menemukan angka nol, termasuk angka satu, dua, tiga dst, sebagai sumbangan Islam dalam penulisan angka pada zaman modern dan menjadi dasar seluruh pembangunan peradaban di dunia, tetapi bagaimana umat islam kembali unggul dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kembali terdepan dan menjadi pemimpin dalam ilmu pengetahuan dan perdaban dunia, karena prestasi nyata yang ditunjukkannya”. Yang penting dari buku ini bukan mengabadikan nosatlgia kebanggaan masa silam, tapi bagaimana nilai-nilai Islam yang digali dalam ziarah ke kota-kota Eropa dapat kita aktualisasikan kembali, menyemai semangat toleransi, kasih sayang & kecintaan yang dalam terhadap ilmu pengetahuan yg mengantarkan kaum muslimin menempati posisi terhormat di muka bumi ini sebagai mana yg pernah terjadi 1000 tahun yang lalu.

Oleh : Ade Hashman

Ade Hashman, Jurnal, Opini, Ulasan