Angelo M. Faoro

Angelo M. Faoro

Sebagai anak tertua, aku menjadi kesayangan mama. Beliau ingin sekali aku menjadi seorang pendeta katholik. Sebab, seluruh keluarga kami merupakan penganut ajaran katholik yang taat. Sayangnya aku kurang berminat mendalami ajaran agamaku. Masak memasak justru menjadi hobbyku. Sebagaimana temen-temen ketahui, saat ini aku bekerja di Zigolini Italian Restaurant, Mandarin Oriental Hotel sebagai Italian Chef. Ayo, siapa yang pengen mencicipi pizza dan pasta olahanku? Ditanggung ketagihan, deh.

Sebagai juru masak hotel berbintang dengan banyak cabang di seluruh dunia, aku sering dikontrak untuk memasak di restoran Italia yang ada di berbagai negara. Selain Indonesia, sudah ada 8 negara yang aku kunjungi dalam rangka bekerja.

Selama melanglang buana, aku sering bertemu dengan komunitas muslim. Gaya hidup orang Islam, terus terang, membuatku ‘ngeri’ membayangkan repotnya. Mereka selalu berisik sebelum mulai shalat lewat suara yang dipancarkan loudspeaker dari masjid. Belakangan kutahu kalo itu disebut adzan. Apalagi papaku dengan sinis membicarakan susahnya menjadi muslim. Tidak boleh minum minuman keras, tidak boleh memakai perhiasan emas bagi kaum lelaki, harus selalu berwudhu sebelum shalat, aduuhh….

Sebagai manusia, aku selalu resah. Puncaknya terjadi 12 tahun yang lalu. Hasratku untuk memiliki agama yang dapat menenteramkan jiwa semakin menggebu. Aku mulai terlibat diskusi dengan temen-temen muslim yang sering kutemui di negara-negara tempatku bekerja. Setahun lalu aku ditugaskan di Indonesia. Tepatnya di kota Jakarta. Ada pengalaman yang begitu mencekam kualami. Suatu subuh aku pulang dari bepergian – biasa, anak muda. Aku melewati sebuah mesjid. O, mama mia. Ada suara yang begitu mencekam dan powerful mengiringi orang-orang itu shalat. Bulu kudukku langsung merinding. Dingin dan takut. Belakangan baru kutahu, kalau suara itu adalah suara Imam shalat shubuh.

Aku punya kesan unik tentang orang Indonesia. Kayaknya mereka nggak takut mati lho, soalnya setiap makan sambel pasti hampir satu mangkok. O, mama mia, aku bingung melihat perut mereka yang kuat. Membayangkan makan sambel aja aku serasa udah mau mati, apalagi itu lho, yang namanya chilli baby (cabe rawit, red.) ya ampuun…pedesnya!

Karena punya banyak temen dari kalangan Muhammadiyah (doyan sambel, lagi) lama kelamaan tekadku bulat untuk memilih Islam. Alhamdulillah, pada tanggal 8 Mei 1999 – sesudah Iedhul Fitri 1420 H – aku mengucapkan dua kalimat syahadat. Susah juga sih belajarnya, aku kan belum bisa berbahasa Indonesia dan Arab.

Sekarang, ada perubahan gaya hidup yang kulakoni. Dulu aku sering minum minuman keras dan gampang nervous. Setelah menjadi muslim, minuman keras tak lagi kusentuh dan rasa gugup/nervous itu telah hilang. Banyak juga sih temenku yang sinis dengan keislamanku. Komentarnya: “wah, kita nggak bisa berteman lagi ya….Kamu sudah lain sekarang.” Padahal aku tetap membuka diri untuk bersahabat dengan mereka lho. Aku juga belum memberitahu keluargaku di Italia tentang keislaman ini, khususnya mamaku. Niatku sih nanti pas aku balik ke sana, baru kuberitahu secara langsung. Bisa kuduga, kalo keislamanku ini ibarat ledakan bom bagi kuping mamaku. Tapi, ini sudah pilihan hidupku. Aku siap menghadang resiko.

Selain itu masih ada problem lain. Aku nggak punya rambut dan jenggot. Ternyata jadi masalah juga, deh. Tiap aku ke mesjid dan shalat, pasti ada 10 atau 15 orang berkerumun heran. Habis, aku dikira orang kristen yang menyamar masuk mesjid. O, mama mia….