Benarkah, Indonesia Bangsa Besar Tak Tertandingi ?

Benarkah, Indonesia Bangsa Besar Tak Tertandingi ?

KECANGGIHAN TEKNOLOGI INTERNAL MANUSIA NUSANTARA

Suatu kali Saya teringat kuliah bebas dari guru saya tentang kondisi pelayanan nyeri di Rumah sakit-rumah sakit kita, yang kini menarik dan rasanya aktual dengan tema ini bagi saya untuk merenungkannya. Beliau yang pernah menjabat sebagai presiden Nyeri Asia itu, kira-kira mengatakan demikian : “Sewaktu Saya masih pendidikan S3 di Amerika, sangat sering sekali bagian Bedah mengkonsulkan bagian anesthesiology untuk menangani nyeri kronik, khususnya perkembangan nyeri akut pasca operasi, namun setibanya di negeri sendiri hal tersebut sangat langka (jika tidak dikatakan malah tidak pernah !)”. Pertanyaannya kemudian yang mengusik saya adalah : Apakah memang kasus nyeri kronik tersebut ditangani sendiri oleh sejawat Bedah selama ini ? atau memang nyeri-nyeri akut pasca operasi itu tidak pernah kemudian berkembang menjadi nyeri kronik karena masyarakat kita adalah “orang-orang yang tangguh, kuat dan tahan menderita” ? (catatan smiling center: masih menilai Indonesia sbg negara paling murah senyum). Analogi untuk hal seperti itu dalam dunia medis sangat banyak contohnya.Jika melihat daftar bala bencana yang telah saya paparkan diatas, maka kesimpulan logika liniernya mestinya bangsa ini sudah hancur sejak dulu? Namun kenapa kita tetap bertahan? Kwalitas mental seperti apakah yang dimiliki pribadi-pribadi rakyat jelata di negeri ini yang masih sanggup hidup “bahagia” meski diselebungi kemiskinan paling absolut itu ? Meminjam istilah, Cak Nun, di dalam budaya Jawa ada kata “mupus” yakni :menganggap tak ada sesuatu yang bikin pusing (dalam hidup ini) tapi sebenarnya tak pernah bisa diselesaikan. Penderitaan berkepanjangan oleh kemiskinan struktural oleh rakyat cukup dijawab dengan “Gusti Allah mboten sare” (Tuhan tidak tidur). Puluhan juta keluarga Indonesia bisa hidup tanpa rasionalitas ekonomi, gaji tak cukup untuk makan keluarga tapi kredit motor, tak ada kerjaan tapi merokok sambil main catur, kalau ditanya bagaimana makan minum keluargamu, mereka menjawab: “cukup pake Bismillah”. Kita pasti sering melihat pemandangan banyak keluarga-keluarga kecil bekerja serabutan mocok-mocok tanpa penghasilan yang layak tapi tetap saja survive dan “bahagia”, atau pemuda-pemuda dikampung yang kerjanya cuma konkow-konkow merokok sambil main gaplek padahal ngak bekerja. Didera krisis moneter sampai 4 kali, tapi ya tidak ada berita warga yang mati kelaparan, tuh!Konon istilah “ngalah” hanya dimiliki orang Indonesia, suatu keterampilan mental berendah hati dalam kondisi paling terpuruk sekalipun, menurut Prof.Dr. Damardjati Supajar istilah “ngalah” berasal dari kalimat “meng-Allah” (meniru kesabaran Tuhan yang tak terhingga). Karena etos “ngalah” itu (mungkin) kita tenang-tenang saja biar budaya-budaya kita yang sangat kaya itu di klaim Negara tetangga, kita nggak pusing milyaran rupiah uang kita diboyong pengusaha hitam untuk disimpan di luar negeri, kita tak terlalu pusing biar Singapura menggaruk pasir kita, Malaysia menyerobot hutan kita, nelayan Philipina menggarong ikan-ikan kita, Negara barat mengeruk bahan tambang kita, bahkan kepada Bank Dunia (IMF) yang jelas-jelas akan menjerat leher kita- bila perlu kita sediakan karpet merah terhadap kedatangan mereka. Sekali lagi pinjam istilahnya Cak Nun, “Indonesia itu bangsa besar yang tak butuh kebesaran”.Keterampilan mental untuk subyektifikasi memaklumi keadaan, betapapun terpuruknya kondisi yang dialami diistilahkan sebagai “teknologi Internal”, rasa-rasanya bangsa kita punya kecanggihan teknologi model ini yang sangat tinggi sehingga model apapun keburukan, kejelekan bahkan kejahatan bisa diperhalus dipolesi dengan ungkapan-ungkapan permakluman, sehingga “eufemisme” berkembang luar biasa dalam tatabahasa kita. Tidak ada istilah dipecat, yang sering disebut purna tugas, tidak terkenal istilah ditangkap tapi diamankan, bahkan pelacur semakin diperhalus menjadi pramunikmat.Salah satu keluaran dari kebiasaan teknologi internal adalah pupusnya denotasi. Manusia dan masyarakat Indonesia hidup dalam konotasi-konotasi. Di negeri ini, sesuatu tidak bermakna sesuatu itu sendiri, A bukan berarti A tapi bisa A’ atau malah B, kata orang jawa “ngono yo ngono sing ojo ngono” (begitu ya begitu tapi jangan begitu!…. bingung tho?).: Setiap kata, setiap perbuatan, setiap langkah dan keputusan, setiap jabatan dan fungsi, selalu tidak berkenyataan sebagaimana substansinya, melainkan ada tendensi, pamrih, maksud tersembunyi, “udang dibalik batu” atau apapun namanya — di belakangnya. Kalau ia berlaku pada denotasi penderitaan dikonotasikan sebagai “tabungan akhirat”, pada “tempe” dianggap “daging”, pada “kegagalan” disebut “sukses yang tertunda”, “kelemahan” disebut “kesabaran”, “kebodohan” dibilang “kerendahan hati”, “kemiskinan” dikonotasikan sebagai “suratan takdir” – maka masih bisa menguntungkan survivalisme para penderitanya. Mereka bertahan hidup berkat kepandaian menciptakan konotasi-konotasi, Pemerintah selalu beruntung karena tingkat kemiskinan dan penderitaan sedahsyat apapun tak mungkin melahirkan pemberontakan total atau revolusi. Inilah “Negerinya orang-orang tertawa” (Citi Of Joy).

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Ade Hashman, Jurnal, Opini, Tulisan