Berita Terbaru Hari Ini : Wiw…Bendera Golkar Dibakar Kader Golkar

Berita Terbaru Hari Ini : Wiw…Bendera Golkar Dibakar Kader Golkar

Berita Terbaru Hari Ini : Wiw…Bendera Golkar Dibakar Kader Golkar

TREN.CO.ID, JAKARTA – Ratusan kader dan simpatisan Partai Golkar di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), memilih membakar bendera partai berlambang pohon beringin itu. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes atas rekomendasi DPP Partai Golkar yang dinilai salah alamat.

Mengamuknya kader dan simpatisan ini dipicu atas rekomendasi Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto yang memberikan rekomendasi kepada pasangan Irianto Malinggong dan Hesmon FVL Pandeli, bukannya kader sendiri yang kini juga menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Bangkep Lania Laosa.

Aksi protes itu pun langsung dilakukan di depan kantor DPD Partai Golkar Banggai Kepulauan.

“Kami sangat kecewa keputusan Setya Novanto yang memberikan rekom kepada orang lain, bukannya kader partai yang terbukti jelas kinerjanya selama ini,” tegasnya.

Dengan ini, para kader dan simpatisan pun mengaku tak lagi percaya dengan kepemimpinan Setya Novanto. Rekomendasi ‘salah alamat’ itu jelas bertentangan dengan ucapannya sendiri yang akan mengutamakan kader sendiri dalam pilkada.

“Bagaimana jadinya Partai Golkar jika yang diutamakan itu orang lain, bukannya kader sendiri?” kecamnya.

Senada, pendukung Lania Laosa, Hamdi menyangkan bahwa yang dijadikan patokan pemberian rekomendasi itu adalah survei saja. Apalagi menurutnya, lembaga survei tersebut tidak pernah turun langsung ke lapangan untuk mengambil datanya.

Ia meyakini, ada proses politik yang sangat salah dalam penentuan rekomendasi itu. Pasalnya, ada sejumlah kejanggalan yang terjadi.

“Kalau memang benar prosesnya, saya yakin tidak seperti ini jadinya. Kok bisa memaksakan rekom kepada calon yang elektabilitasnya rendah?” ujarnya.

Sebelumnya, Setnov sendiri menegaskan tidak akan memilih calon yang memiliki elektabilitas rendah apalagi sampai dibarengi dengan mahar tertentu.

“Kalau memang elektabilitas dan hasil surveinya tidak bagus, ya tidak akan saya pilih. Apakah itu saudara saya, adik saya atau sahabat saya,” kata Setnov.

Atas hal tersebut, Setnov mengaku sempat mendapat kritik dan ancaman dari berbagai pihak.

“Pasti ada ancaman, ada yang komplain, ada yang ke Jakarta atau ke tempat saya menyampaikan keberatan-keberatan. Ya saya sampaikan sejelas-jelasnya bahwa itu tidak bisa karena kita harus melakukan azas taat aturan supaya bisa dijalankan secara demokratis,” tegas Setnov.

(*/rik)