Busana Islami ala Anne Rufaidah

Busana Islami ala Anne Rufaidah

Menurut konsep Islam, berpakean nggak cuma buat menuhin kebutuhan dasar manusia saja lho. Selain itu juga punya fungsi lain. Baik buat sarana ngebentuk pribadi, tanda buat gampang dikenal, media berdakwah dan sebagai bukti nyata atas ketundukan seorang umat sama Sang Pencipta.

Nah, karena Islam agama universal, maka busana muslim itu mustinya kudu oke juga di mana-mana dong. Yah, pokoknya busana yang bisa dipakai oleh setiap muslimah di manapun dia berada, kapan saja dan darimanapun asalnya. Pokoknya nggak diskriminatip lah.

So, apa yang ngebedain antara busana muslim sama busana konvensional? Menurut Anne Rufaidah, pengusaha busana muslim ternama, mengatakan, busana muslim mempunyai kekhususan tersendiri yang datang dari Al-Qur’an dan hadis,” jelasnya. Maksud pengasuh rubrik mode di sejumlah media cetak ini, busana muslim itu busana yang menuhin sejumlah kriteria. Antara lain nutupin aurat (pokoknya sekujur tubuh wanita kudu rapet. Kecuali muka dan telapak tangan); nggak tembus pandang; nggak ngebentuk body en nggak menarik perhatian.

Lho, kok nggak menarik perhatian? 
“Saya mencantumkan ‘menarik perhatian’ dengan maksud agar orang itu nggak mendekati pada suatu hal yang kurang baik. Dalam hal ini, memandang seseorang sampai lebih dari dua, tiga detik atau dari atas bawah secara terus menerus seperti itu,” jelas Ane dalam sebuah dialog busana muslim di Jakarta.

Memang, menarik perhatian bisa dengan apa saja. Baik dengan disain, dengan warna, dengan bunyi, dengan wangi-wangian dan sebagainya. Lebih tegas Anne ngejelasin yang dimaksud nggak boleh narik perhatian itu nggak semata-mata menarik perhatian secara seksual. Umpama warna yang nyolok, ukuran yang kelewat ketat. “Tapi sebenarnya hal yang lain lagi,” kilahnya. Hal lain yang dimaksud Anne, lanjutnya, karena busana yang dipake akhwat itu dilihatin orang banyak, nggak cuma kaum laki-laki doang, tapi juga sesama kaum wanita pada umumnya, maka yang perlu dicegah itu bagaimana agar busana yang kita pake nggak ngundang penyakit hati. Sebut saja nimbulin rasa iri hati, dengki dsb. “Hal itu harus dicegah. Makanya jangan sampai berlebihan,” tandas desainer yang hasil rancangan betebaran mejeng di setiap caunter busana Pasar Raya. *** (Naskah & foto: Hamidin Krazan)