Epilog "Karena Kita Begitu Berharga"

Epilog "Karena Kita Begitu Berharga"

Cuplikan singkat dari buku terbaru Ade Hashman “Karena Kita Begitu Berharga”, pada hal terakhir EPILOG nya. Sadarilah & syukurilah bahwa Tuhan berkehendak menciptakan kita lalu memilih kita menjadi manusia dan mendesain wujud kita itu dengan “tingkat keseriusan sepenuh hatiNya”. Sebagai manusia, dijadikanNya kita wujud yang paling sempurna dibanding seluruh mahklukNya. DiangkatNya kita menjadi khalifah, menempati puncak stupa kemuliaan dan menggungguli semua mahklukNya bahkan kepada malaikat mahkluk bersayap dari langit sekalipun.

Serasa kita berkata bahwa seolah seluruh sejarah penciptaan alam raya ini hanya terfokus kepada kita.

Bersyukurlah karena,

Kita dibekali-Nya kodrat dasar “fitrah kehanifahan” untuk selalu condong pada kebenaran dan gandrung pada kemuliaan, dengan fitrah itu kita memiliki radar alami untuk menemukan jalan pulang kembali selamat ke tempat tujuan.

Bersyukurlah karena,

Tuhan memberikan kita kelengkapan indera yang mampu merespon lingkungan, sehingga kita memilih sesuatu berdasar keinginan, sehingga dunia ini menjadi suatu wahana yang begitu memikat penuh warna dan berjuta rasa.

Mari kita syukuri bahwa Allah memberikan sepasang mata kepada kita, sehingga bisa kita saksikan pagelaran keindahan alam; langit biru safir membentang tanpa atap tanpa tiang, awan cumulus putih menggumpal seputih kapas, cerahnya matahari pagi, semburat pelangi dan purnama rembulan yang tidakkan pernah bosan untuk ditatap, lautan biru teduh menyejukkan, pepohonan hijau nan menentramkan, mawar merah merona merebakkan keharuman serta selaksa keindahan lain yang teramat menakjubkan. Padahal, mudah bagiNya membuat gelap pekat seketika dunia disekeliling kita; mudah bagiNya membuat reseptor retina dimata ini tak mampu merespon berbagai warna dan bentuk.

Syukurilah bahwa Allah memberikan telinga, sehingga kita memiliki instrument untuk mendapatkan ilmu dan cahaya kearifan. Padahal sangat mudah bagi Allah menghendaki dunia ini menjadi sunyi senyap seketika kalau kemampuan indera pendengaran diambil, tidak ada terdengar lagi gema lantunan azan atau tangis bayi yang dirindukan atau kicau burung yang mengumandangkan puja-pujian kepada Tuhannya setiap pagi dan petang.

Alhamdulillah Allah memberikan kita lidah & pita suara yang bekerjasama menghasilkan suara & tatanan kalimat. Padahal mudah bagi Allah untuk membuat mulut kita terkunci tidak bisa berkata-kata, sehingga tak ada lagi puisi indah, senandung merdu, kefasihan orasi berbicara yang dapat diperlihatkan.

Bersyukurlah karena,

Diberi-Nya kita perangkat akal, susunan otak yang kompleks dengan lapisan kulit luar otak “neo korteks” yang menghadiahkan kecerdasan tiada terperi; yang dengannya kita memiliki “pisau analisa” mampu menilai mana yang dianggap baik dan benar, menggagas ide, berabstraksi ke masa lalu atau merekayasa masa depan. Alhamdulillah bila Allah membuat kita cerdas, tidak menjadi orang dimensia hilang ingatan. Padahal amat mudah baginya menghapus semua memory yang kita miliki sehingga kita tak ubahnya anak bayi atau orang tua renta yang telah pikun tak berdaya.

Anda adalah sebuah Masterpiece dari Sang Pencipta, fii ahsani taqwim.