Lisa Rustanti Kerisna ( Siti Aisyah )

Lisa Rustanti Kerisna ( Siti Aisyah )

Ketika hendak mengisi kolom agama dalam ijazah, aku pusing karena agama Konghucu tidak diakui keberadaannya di Indonesia. Akhirnya aku memilih Kristen Katolik dalam ijazah. Menjelang Ebtanas aku diajari ajaran agama itu oleh salah seorang suster, bahkan aku tergabung dalam koor gereja.Meski dalam ritual agama itu aku diajari banyak tata cara berdoa dan ibadah, namun aku mengikutinya dengan setengah hati. Semua itu aku lakukan hanya sekedar mengisi nilai ijazah.

Setamat SD aku semakin bingung. Antara keinginan hati nurani dan ancaman nenek. Ditengah kebingungan itu ayah mengajakku untuk tetap menganut agama yang diyakininya, Konghucu. Namun oleh bibi aku diajak memeluk agama Budha. Tujuannya agar keluargaku senang. Tapi aku justru tertekan. Setiap mengunjungi vihara hatiku penuh keterpaksaan. Aku berjanji jika sudah bisa cari uang dan tidak memerlukan bantuan keluarga lagi, aku akan memeluk Islam.

Keinginanku menjadi muslimah terus menggebu. Apalagi setiap malam hari raya Islam; aku selalu menangis. Hal ini terjadi sampai kelas III SMP.Setamat SMP kembali muncul keinginan menjadi muslimah. Dorongan itu semakin kuat. Apalagi adikku, Mulyadi, telah menjadi muslim. Pihak keluarga sangat keberatan. Karena jika aku menyusul adikku memeluk Islam, lantas siapa yang akan mengurusi jenazah ayah jika sudah mati. Apalagi menurut ajaran itu, arwah orang tua harus selalu didoakan dengan tata cara tertentu. Itu yang menjadi pertimbangan baru keluargaku.

Namun, aku terus mendesak. Dengan berat hati, ayah mengabulkan permohonanku. Alhamdulillah keinginan menjadi muslimah terwujud sudah.Dengan bantuan bibiku yang sudah memeluk Islam, aku mengikrarkan dua kalimat Syahadat di daerah Cipinang oleh seorang guru ngaji, Namaku kini menjadi Siti Aisyah. Keislaman ini kusambut dengan penuh puji syukur kepada Allah Swt. Sekali bertauhid tetap bertauhid. Itu adalah prinsipku.* (M. Muladi)