Membukukan Al – Quraan

Membukukan Al – Quraan

MEMBUKUKAN AL-QURAAN

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, dan ketika Abu Bakar menjadi khalifah, Umar berkata kepada Abu Bakar; “Dalam peperangan Yamamah para sahabat yang hafal Al-Quraan telah banyak yang syahid. Saya khawatir akan gugurnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya, sehingga banyak ayat-ayat Al Quraan itu perlu dikumpulkan.” Abu Bakar menjawab; “Mengapa aku akan melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?” Umar menegaskan; “Demi Allah, ini adalah perbuatan yang baik.” Dan ia berulang kali memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan Al Quraan, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima pendapat Umar itu. Kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit dan berkata kepadanya; “Umar itu mengajakku mengumpulkan Al Quraan.” Lalu diceritakan segala pembicaraan yang telah terjadi antara beliau dengan Umar. Kemudian Abu Bakar berkata; “Engkau adalah seorang pemuda cerdas yang aku percayai sepenuhnya. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu disuruh oleh Rosulullah. Oleh karena itu, maka kumpulkanlah ayat-ayat Al Quraan itu.” “Demi Allah, ini adalah pekerjaan yang berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada mengumpulkan Al Quraan yang engkau perintahkan itu,” jawab Zaid. “Dan mengapa kalian melakukan yang tidak diperbuat oleh Nabi?” tanyanya kepada Abu Bakar dan Umar. “Demi Allah, ini adalah perbuatan yang baik,” jawab Abu Bakar. Lalu ia memberikan alasan-alasan kebaikan pengumpulan ayat-ayat Al Quraan sehingga membukakan hati Zaid. Kemudian Zaid pun mengumpulkan ayat-ayat Al Quraan dari daun, pelepah kurma, batu, tanah keras, tulang unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al Quraan. Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al Quraan itu Zaid bekerja amat teliti. Sekalipun beliau hafal Al Quraan, tetapi beliau masih memandang perlu mencocokkan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi.

Dengan demikian Al Quraan seluruhnya ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran, dan diikatnya dengan benang, disusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rosulullah, kemudian diserahkannya kepada Abu Bakar. Mushhaf ini tetap ditangan Abu Bakar sampai ia meninggal. Kemudian dipindahkan ke rumah Umar Bin Khaththab dan tetap di sana selama pemerintahannya. Sesudah beliau wafat, Mushhaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah, putri Umar, istri Rosulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al Quraan di masa Khalifah Utman. * (Syukri/sumber; Al Quraan)