Beranda Nasional Rani Andriani alias Melissa Aprilia kini ikhlas menunggu eksekusi

Rani Andriani alias Melissa Aprilia kini ikhlas menunggu eksekusi

8976
0
BAGIKAN
Sejumlah keluarga terpidana mati menyeberang ke Nusakambangan melalui Dermaga Wijayapura Cilacap, Jateng, 16 Januari 2015.
Sejumlah keluarga terpidana mati menyeberang ke Nusakambangan melalui Dermaga Wijayapura Cilacap, Jateng, 16 Januari 2015.

Perempuan ini akhirnya harus membayar perbuatannya, setelah menjadi kurir dari bisnis haram narkoba beberapa tahun silam. Rani Andriani alias Melissa Aprilia satu dari enam terpidana yang akan dihukum mati akhir pekan ini. Perempuan asal Cianjur, Jawa Barat itu tinggal menunggu waktu.

metrotvnews.com. Awalnya, Pengadilan Negeri Tangerang lah yang memvonis mati Rani pada 22 Agustus 2000 lalu. Rani ditangkap Januari 2000 di Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten, karena upaya penyelundupan heroin sebanyak 3,5 kilogram.

Rani sebenarnya hanya kurir. Bisnisnya justru dikendalikan sepupunya Meirika Franola alias Ola dan Deni Setia Marhawan, yang juga sepupu Ola. Ola memulai bisnis haram ini setelah diajak suaminya Tajudin alias Tony alias Mouza Sulaiman Domala, warga negara Nigeria. Tony tewas saat baku tembak dengan polisi yang berupaya menangkapnya pada 2005.

Ola dan Deni sebenarnya juga dihukum mati, tapi grasinya dikabulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012 lalu. Mereka kini menjalani hukuman penjara seumur hidup. Apes bagi sang kurir, permohonan grasinya ditolak Presiden Joko Widodo Desember 2014.

Rani terjerumus dalam bisnis narkoba awalnya karena butuh uang. Terjerat utang. Suatu hari dia bertemu Ola, hendak meminjam uang sebesar Rp5 juta, untuk membayar utangnya. Ola mengaku tak punya uang untuk dipinjami, dia malah menawarkan bisnis narkoba. Rani ditawari jadi kurir. Dia mengangguk setuju.

Mulailah dia bepergian ke luar negeri mengantarkan atau menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Hingga akhirnya tertangkap. Dia sempat mengajukan banding, kasasi dan peninjauan kembali (PK). Semua upaya hukumnya itu gagal. Dia tetap dihukum mati. Rani bahkan sempat mengajukan uji materi soal hukuman mati ke Mahkamah Konstitusi (MK). Itu juga gagal.

BACA JUGA  Deforestasi di Indonesia Setengahnya Terjadi di Luar Wilayah Konsesi

Rani kini ikhlas menunggu waktu eksekusi. Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cilacap Hasan Makarim, Rani sudah siap menghadapi eksekusi. “Bahkan saat ini dia tengah berpuasa 40 hari yang akan tuntas dalam beberapa hari ini,” katanya, Jumat (16/1/2015).

Kata Keluarga Soal Terpidana Mati Rani Andriani

TEMPO.CO, Cianjur – Pihak keluarga terpidana mati Rani Andriani alias Melissa Aprilia, warga Jalan Prof Moch Yamin Gang Edi II Kelurahan Sayang Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengaku kehilangan kontak dengan ayah Rani. Sehingga pihak keluarga belum dapat memastikan apakah Rani akan dimakamkan di Cianjur atau tidak.

Asti, 22 tahun, adik sepupu Rani, mengaku, kehilangan kontak dengan ayahnya Rani sejak 2006 lalu setelah ibunda Rani meninggal. Keluarga sepupu Rani masih mencari ayah Rani untuk menentukan tempat pemakaman Rani. “Belum jelas sih mau dimakamkan di mana. Tapi katanya ingin dikuburkan dekat makam almarhumah ibunya,” ujar Asti di Cianjur, Jumat 16 Januari 2015. (Baca juga: Kisah Rani Kurir Narkoba Menjelang Dihukum Mati)

Asti mengaku baru mengetahui kakak sepupunya akan menjalani eksekusi melalui pemberitaan sejumlah media. Menurut dia, sejak Rani dan saudaranya, Meirika Franola alias Ola serta Deni Setia Maharwan, tertangkap membawa 3,5 kilogram heroin, pihak keluarga terkesan tertutup dengan kasus tersebut.

“Saya juga baru tahu kemarin sore di berita kalau Teh Rani akan dieksekusi mati. Lagian waktu itu juga sudah tidak ada komunikasi sama keluarganya. Soalnya sudah pada pindah dari Gang Edi,” kata Asti.

Endik, 37 tahun, sepupu Rani lainnya, mengatakan sudah cukup terpukul dengan kasus yang menimpa Rani dan saudaranya, Meirika Franola alias Ola serta Deni Setia Maharwan. Sejak dipindah ke Nusakambangan, Endik sudah tidak pernah mendapat kabar perihal Rani, Ola maupun Deni.

BACA JUGA  Kalimat Terakhir dari Kotak Hitam, itu yang bikin merinding

“Sejak peristiwa itu, keluarga Rani pindah dari Cianjur kota ke Ciranjang dan keluarga Olla ke Kecamatan Cikalongkulon. Kami seakan hilang kontak meskipun masih tinggal di satu kota. Setahu saya orangtua Rani tinggal di Kecamatan Ciranjang. Kalau memang Rani berkeinginan dimakamkan di Cianjur, pihak keluarga akan mengurusnya, namun kami akan bicarakan terlebih dahulu,” kata dia.

Hingga saat ini, Endik mengatakan pihak keluarga belum mendapat kabar pasti, namun baru mengetahui keinginan Rani tersebut dari media dan sejumlah wartawan. Namun, ungkap Endik, pihak keluarga akan menerima jasad Rani dan akan mengurus pemakaman sesuai keinginannya dimakamkan di samping makam ibunya.

“Kami masih menunggu kabar dan akan menghubungi ayah Rani karena sejak beberapa tahun terakhir kami kehilangan kontak apakah masih di Cianjur, atau ikut adiknya Rani di Bekasi,” ujar dia.

Terpidana mati Rani ingin dimakamkan di Cianjur

(ANTARA News) – Salah seorang terpidana mati, Rani Andriani alias Mellisa Aprillia ingin dimakamkan di samping makam ibundanya di Cianjur, Jawa Barat, setelah menjalani eksekusi.

“Saya mengunjungi (terpidana mati) yang perempuan, kondisinya sehat. Dia puasa 40 hari,” kata rohaniwan pendamping terpidana mati yang akan menjalani eksekusi, K.H. Hasan Makarim saat ditemui di Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis siang.

Hasan mengatakan itu kepada wartawan usai mengunjungi para terpidana mati yang menjalani masa isolasi di Lembaga Pemasayarakatan Besi, Pulau Nusakambangan.

Menurut dia, terpidana mati atas nama Rani Andriani alias Mellisa Aprillia yang baru dipindah dari Tangerang ke Nusakambangan pada hari Rabu (14/1) itu mengaku akan menjalani puasa sampai selesai.

BACA JUGA  Saya Tak Akan Membunuhmu karena Kamu Wanita kata Teroris Paris

Saat ditanya mengenai kemungkinan Rani menyampaikan suatu keinginan atau keluhan, dia mengatakan bahwa yang bersangkutan minta dimakamankan di sebelah makam ibunya.

“Yang paling penting dia dimakamkan di sebelah ibunya di Cianjur, Jawa Barat,” kata Koordinator Pesantren Warga Binaan Pemasyarakatan se-Nusakambangan itu.

Lebih lanjut, dia mengaku hanya mendampingi dua terpidana mati yang beragama Islam, yakni Rani Andriani dan Namaona Denis yang berkewarganegaraan Nigeria.

Menurut dia, kondisi Namaona Denis juga dalam kondisi sehat namun yang bersangkutan belum menyampaikan keinginannya sebelum menghadapi eksekusi.

Selain Rani dan Denis, kata dia, di ruang isolasi Lapas Besi juga terdapat tiga terpidana mati lain yang juga akan segera menjalani eksekusi.

Oleh karena tiga terpidana mati itu tidak beragama Islam, dia tidak melakukan pendampingan rohani terhadap mereka.

“Tiga terpidana lainnya ada yang Katolik dan Buddha. Saya hanya kepada yang Muslim saja,” kata dia yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cilacap.

Ia mengatakan bahwa pendampingan rohani itu akan terus dilakukan sampai selesai.

Akan tetapi, dia tidak menyebutkan kapan pendampingan itu akan berakhir.

“Saya tahunya berakhir kalau saya sudah di atas (lokasi eksekusi di Pulau Nusakambangan) baru saya tahu kalau itu berakhir. Kalau sekarang belum tahu,” katanya.

Di samping memberi pendampingan terhadap dua terpidana mati, Hasan mengatakan bahwa kedatangannya di Lapas Besi juga dalam rangka koordinasi termasuk singgah ke Lapas Batu.

Akan tetapi saat di Lapas Batu, dia tidak sempat bertemu dengan terpidana kasus narkotika Deni Setia Marhawan yang kini aktif di pesantren warga binaan pemasyarakatan setempat.

“Kayaknya dia sudah tahu (soal rencana eksekusi terhadap Rani Andriani),” katanya.