Nasip Mujur Ataukah Sial

Nasip Mujur Ataukah Sial

Dahulu sewaktu saya masih anak-anak-sebelum tidur, hampir tiap malam Nenek menuturkan berbagai dongeng. Misalnya seperti ini:

Dahulu kala ada pria tua yang memiliki seorang anak laki-laki dan seekor kuda. Suatu hari, kudanya lepas lari ke perbukitan.

Tetangga pria itu bersimpati padanya. “Betapa sial nasibmu karena kehilangan kudamu,” kata mereka.

“Mengapa kalian berkata begitu?” jawab sang pria tua. “Siapa yang dapat memutuskan apakah itu nasib sial?”

Keesokan harinya kuda itu kembali, dan dibelakangnya muncul dua belas ekor kuda liar, yang dibawanya pulang. Anak laki-laki tua itu buru-buru menutup pintu pagar dan menuju tanah lapang tempat kuda itu merumput. Kuda mereka tidak hanya seekor, tapi menjadi tiga belas kuda.

Para tetangga menatap lapangan keesokan paginya dan berkata, “Mujur sekali nasibmu-sekarang memiliki tiga belas ekor kuda.”

“Mengapa kalian berkata seperti itu?” sahut sang pria tua. “Siapa yang dapat menentukan apakah itu nasib mujur?”

Tak lama kemudian, anak laki-laki sang pria tua pergi menunggang seekor kuda liar tersebut untuk menjinakkannya. Saat anak laki-laki itu berada di punggung kuda, kuda itu berontak dan menjatuhkan anak laki-laki itu sehingga kakinya patah.

Para tetangga berdatangan menyatakan simpati pada pria tua dan anak laki-lakinya. “Betapa sial nasibmu,” kata mereka, “karena kini anak laki-lakimu patah kaki.”

“Mengapa kalian berucap seperti itu?” sahut pria tua. “Siapa yang dapat mengatakan ini nasib sial?”

Dan benar saja, tak lama kemudian, anggota tentara kerajaan mendatangi desa itu, merekrut semua pria muda bertubuh sehat untuk ikut berperang. Semua orang tahu, peperangan itu sebagian besar akan kehilangan nyawa. Namun ketika melihat anak laki-laki si pria tua berbaring di sana dengan kaki patah, mereka melewatinya dan berlalu.

“Betapa mujur dirimu,” kata para tetangga. Pria tua itu hanya tersenyum.

Oleh : Haidi Yan

Cerpen, Haidi Yan, Jurnal, Tulisan