Pelajaran, kebahagian dari penjual bensin eceran

Pelajaran, kebahagian dari penjual bensin eceran

Untuk urusan dengan perbankan, aku perlu bepergian ke Bontang. Biasanya aku lebih suka mengendarai dengan motor, karena bisa lebih cepat dan bisa menikmati semilir angin selama di perjalanan, apalagi saat pulang senja. Kemuning sinar matahari di angkasa; gumpalan awan-awan; dan cahaya redup sinar rembulan; duh sungguh terlihat indahnya alam ciptaan TUHAN. Saat mengendarai motor, serasa keindahan alam itu khusus disajikan untukku.

Siang ini, aku mengendarai mobil operasional kantor, tidak menggunakan mobil pribadiku, karena sejak beberapa bulan terakhir, aku lebih memilih berkantor dengan motor atau jalan kaki dari rumah daripada mengendarai “sedan hitam yang sudah lama setia menemaniku”. Bukannya aku mau melupakan atau menduakan mobil itu, tapi timbul kesadaran bahwa kenyataan halaman parkir dikantorku sempit, kalau aku belum bisa menyediakan halaman parkir yang cukup, biarlah halaman parkir itu dipergunakan untuk pelangganku, toh merekalah yang sejatinya harus kulayani, apapun jabatanku, direkturkah atau ownerkah diperusahaan ini, dalam status hubungan dengan pasien atau pelanggan, aku adalah pelayanannya. Dan sudah sepatutnya sebagai pelayanan aku harus mendahulukan kepentingan parkir orang-orang yang kulayani.

Beberapa menit setelah kendaraanku melaju, tampak jarum pertanda BBM menujukan angka bawah, sebagaimana kantong karyawan saat tanggal tua. Stoknya tipis, dan meresahkan hati, “apakah mungkin bisa sampai di tempat tujuan, dengan BBM segitu?”, itu kalimat yang terkata di hati.

Menjelang mendekati STC, aku berharap bisa belok ke SPBU, untuk memenuhi dahaga kendaraanku. Namun, harapanku itu pupus sambil mobil tetap melaju. Dengan terang, di gerbang SPBU, tertera tulisan “BENSIN HABIS”. Terbersit pikiran untuk balik ke jalan pendidikan, siapa tahu, di sana masih ada harapan? Namun itu aku urungkan, aku lebih memilih melanjutkan dengan harapan ada penjual bensin jalanan di depan.

Aku sering mendapat pengalaman, saat membutuhkan sesuatu, dalam suatu perjalanan yang memberikan banyak pilihan dan harapan. Ketika memilih yang paling akhir, ternyata ada halangan, jadi gagal, dan akhirnya tidak sesuai yang diharap atau rencanakan.

Pernah suatu waktu, dalam perjalanan dari kantorku ke BRI town hall, perlu fotocopy, saat melewati fotocopy disamping gang rejeki, pikiranku mengatakan; “Ah di dekat BRI kan ada fotocopy, sekalian parkir di sana, kan ndak usah berhenti-berhenti?”, pikiran itu terkesan logis, namun hasilnya, adalah balik lagi, karena pada pilihan dan harapan yang terakhir ternyata ada halangan, padahal waktu sudah mepet. Kejadian model seperti itu beberapa kali terjad. Sehingga aku dengan sadar memutuskan kalau ada kejadian seperti itu, tak akan ku sia-siakan kesempatan pertama karena kita tidak tahu kondisi kesempatan selanjutnya, terutama dalam peluang bisnis.

Siang ini, entah apa, aku melanggar “program software” yang ku program dalam memoriku. Beberapa penjual bensin jalan di dekat pinang, tak membuatku untuk menghentikan lajunya kendaraan, begitu juga setelah lewat jembatan.

Hingga tiba, di jalan dekat beberapa puluh meter melewati hotel Kristal dan dekat Gang menuju SMK Hasanudin, dari kejauhan sekilas tampak, penjual bensin jalanan yang lain daripada biasanya.

Kebanyakan, penjual bensin jalanan, isinya berkurang 10 atau 20%, walau judulnya yang terpapang di tulisan ala kadanya adalah Rp….. / liter.

Tapi penjual itu lain, bensin yang dijajakan full , hampir penuh mendekati tutup botol. Sontak, hatiku memerintahkan pikiranku untuk menepi dan menghentikan mobil.

“Beli Bensin”, ujarku setelah turun dari mobil mendekati rumah penjual bensin. Rumah itu sangat sederhana, dari kayu, dindingnya dari triplek dan kayu-kayu ala kadarnya yang belum sepenuhnya menutupi semua dinding rumah itu. Di terasnya, dijajakan mie, roti, minuman, dan lain-lain. Dan daun pintunya, belum terpasang.

Tampak dari luar, didalam rumah, seorang anak perempuan berumur 6 tahunan, dengan asik riang gembira bercanda tawa dengan adik bayi dan ibunya. Ketika mendengar suaraku, canda gurauan mereka rehat sejenak, dan terdengar kata sopan; “Pak, tolong sebentar, ada yang mau beli bensin?”

Sesaat kemudian, mucul seorang laki-laki, yang mungkin adalah kepala rumah tangganya, dari sudut pandangku, bajunya sederhana, kulitnya matang lebih matang dari kulit tubuhku, dan dengan wajah (maaf) sedikit dibawah standar umumnya, beberapa ruas giginya, betul-betul berhasrat untuk selalu unjuk gigi.

Lelaki itu menyambutku dengan ramah, terbersit dari kata dan mimik mukanya. Dia mengangkat bensin yang berukuran mendekati penuh satu liter penuh itu, beberapa botol, disuapkan dengan corong ke kendaraanku. Dan ketika, aku bertanya harga, dengan ramah pula di menjawab “6.000 pak per liter”, harga yang wajar di jalanan untuk bensin di Kota Sangatta.

Uang kertas warna merah, segera ku serahkan, dan lelaki itu segera memberikan uang kembalian. Sesaat setelah itu, dari pinggir jalanan dia kembali ke keluarganya, dan canda tawa dengan anak, istrinya pun kembali bersambung.

Siang itu; TUHANku seraya berujar padaku; “Uce, lihat keluarga itu, mereka bisa memilih dan menikmati waktu dengan canda tawa kebahagian keluarga, kata-kata sopan mesra dan bekerja dengan jujur walau dengan rumah sederhana, ekonomi biasa-biasa dan wajah tak seperti umumnya.”

Segera terucap lirih di hati dan bibir, “Alhamdulillah ya ALLAH, atas segala karuniamu padaku dan keluargaku, engkau betul-betul MAHA ADIL & MAHA KASIH”, “Siang ini engkau menunjukkan padaku, bahwa semua orang engkau beri hak yang sama untuk memilih kebahagiannya, apapun posisi status, jabatan sosial dan level ekonomi, ketampanan / kecantikan atapun apapun latar belakangnya”

Kendaraanku menderu, meninggalkan orang dan keluarga itu.

Oleh : Uce Prasetyo

Jurnal, Opini, Tulisan, Uce Prasetyo