Pembukaan Majalah Sobat Muda Muslim TREN

Pembukaan Majalah Sobat Muda Muslim TREN

Nyontek Kebiasaan Penyakit nyontek ini bisalah dibilang ‘bawaan bayi’. Karena bukan sekali dua si penyontek ini melakukan hal tersebut. Nyonteknya doi karena sudah menjadi kebiasaan. Daripada belajar sebelum menghadapi ulangan, si oknum pelajar tersebut malah mo ambil gampangnya. “Ah, encer, kalau nggak bisa kan tinggal nyontek,” begitu pikirnya, tanpa mau memikirkan resikonya, kalau-kalau nanti ketahuan oleh guru yang mengawasi ketika sedang berlangsungnya ulangan

Dan biasanya, si penyontek itu bukan termasuk orang yang malas, malah cenderung aktif dan kreatif. Sayangnya, aktif dan kreatifnya dalam rangka mencari contekan atau bikin contekan, bukan dalam hal belajar. Tentu saja, ini salah kaprah. Tapi berhubung memang sudah menjadi kebiasaan, si penyontek mana mau menghiraukan. Yang penting kertas ulangan terisi dan mendapatkan nilai lumayan.

Nyontek Keadaan Kalau si penyontek yang satu ini biasanya melakukan contekan hanya sekali dua. Itu pun karena keadaan. Dalam arti kata, ketika doi menyontek, memang karena nggak bisa atau lupa, bukan karena malas belajar. Tahu sendiri deh, pelajaran kan kadang banyak banget yang meski dihafal. Berhubung nggak bisa dihafal semua, daripada nggak keisi tuh kertas ulangan, ya nyontek aja. Namun dari sekali dua nyontek kayak gini, nggak menutup kemungkinan menjadi kebiasaan, karena begitu menyontek pertamanya lancar-lancar saja, ada godaan untuk mengulangi di ulangan selanjutnya. So, ini memang tergantung orangnya, kalau doi menyadari bahwa menyontek itu nggak baik, tentu nggak bakal mengulangi lagi. Tapi kalau prinsip doi yang penting dapat nilai bagus semua, nggak menutup kemungkinan si penyontek bakal mengulangi lagi. Ketagihan, istilahnya. Nyontek = Nggak Pede Baik yang nyontek karena kebiasaan atau nyontek karena keadaan, dua ‘makhluk’ tersebut bisalah dibilang sebagai mahluk nggak pede. Soalnya apa yang dilakukannya amat tergantung pada hasil contekan. Doi nggak sadar dengan resiko yang dihadapinya kalau ketahuan guru saat melakukan contekan. Dan biasanya, guru nggak akan memberi toleransi kepada si murid yang melakukan contekan. Kalau sudah ketahuan kayak gitu, sangsi tentu saja diberlakukan. Selain nilai ulangannya langsung jeblok (baca; nggak bagus), biasanya juga mendapat hukuman. Hukuman yang diterima biasanya disesuaikan dengan yang diberlakukan di sekolah tersebut. Kalau sudah begitu, musibahlah buat si penyontek. Sudah nilai ulangannya nggak bagus, dapat malu lagi.  Dan yang paling penting, ada resiko yang lebih buruk lho, yaitu ancurnya moral kejujuran dan kerja keras demi prestasi. Orang yang ‘sukses’ karena nyontek akan membuat dia malas berusaha. Bukankah nilai prestasinya akademiknya selalu bagus biar pun doi nggak belajar? Udah gitu, dia akan mempengaruhi temen-temen lainnya yang lemah iman. Mereka akhirnya ikut-ikutan nyontek, lha enak…. Nggak perlu capek-capek belajar, nilai ulangannya selalu bagus. Nah, inilah pola pikir yang berbahaya karena ingin sukses dengan jalan pintas yang tak bermoral. Hiih…. Banyak Jalan Menuju Perbaikan

So, kalau ‘penyakit’ nyontek itu bersarang di diri kita, kayaknya segera obati saja deh dengan intropeksi diri dan belajar yang giat, biar saat ulangan nggak kelimpungan cari contekan. Dan kalau penyakit nyontek itu ada pada sohib atau teman dekat, ini tantangan buat kita, mampu nggak kita mempengaruhi doski agar nggak nyontek lagi. Hal ini tentu saja nggak gampang, tetapi – bukankah banyak jalan menuju perbaikan? Dan bukankah manusia sifatnya berubah. Tinggal kita memberi keyakinan, kalau orang lain bisa, kenapa kita nggak. Makanya saat belajar atau mengulang pelajaran, berdoa aja kepada Allah, biar diberikan daya ingat yang kuat sehingga apa yang dipelajari langsung terpatri di hati. So, selamat belajar dan hilangkan kebiasaan nyontek.* (GarA)