Perlahan Tapi Pasti, Warga Akan Tinggalkan Kalijodo

Perlahan Tapi Pasti, Warga Akan Tinggalkan Kalijodo

Perlahan Tapi Pasti, Warga Akan Tinggalkan Kalijodo

Tren.Co.Id – Sepertinya warga eks-Kalijodo mulai meninggalkan dengan terpaksa atau sukarela.Satu persatu warga ada yang mencari rumah kontrakan di tempat lain yang jauh dari lokasi penggusuran.

Adapun pemilik rumah serta warga DKI, yang akan direlokasi mulai siap dipindahka ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Daang Mogot, Marunda dan Pulogebang. Namun sayangnya, untuk memindahkan warga dari Kalijodo itu tidak mudah.

Pada awalnya berita akan digusurnya wilayah sarang maksiat tersebut, warga dengan keras menolaknya, mereka menganggap setelah wilayahnya diratakan hidupnya akan terkatung-katung dan akan hilang mata pencahariannya yang serba syuur.

Tidak saja dari warga yang menolak, tetapi Daeng Aziz atau Abdul Aziz sebagai dedengkot penguasa di Kalijodo, dia dengan arogannya dalam penggusuran wilayahnya. Gerak-gerik si Daeng tersebut, membuat warga kegirangan dan ikut-ikut menentangnya.

Sehingga dia mulai bergerilya dan menggalang warganya terutama di daerah Penjaringan agar tidak mau pindah dan menolak didaftarkan sebagai penghuni Rusun. Sementara itu, menurut Walikota Jakarta Utara, sepertinya si Daeng mulai melakukan intimidasi terhadap warganya yang bersedia dipindahkan, katanya lagi bahwa warga yang telah didaftarkan untuk dipindahkan sebagian telah mencabutnya.

Dari 24 orang waktu itu yang bersedia mendaftarkan diri, menjadi berkurang menjadi 10 orang saja, jadi yang 14 orang sudah terkena hasutan dari dedengkot Kalijodo tersebut. Tetapi ada yang unik bahwa warga Kalijodo di Tambora Jakarta Barat sejak dari awal mulai berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk mendapatkan Rusun.

Lambat laun warga relokasi Kalijodo terutama di kawasan maksiat tersebut mulai sadar diri dan mulai meninggalkan kawasan tersebut, apalagi setelah mengetahui bahwa si Daeng Cs sudah dijadikan tersangka.

Warga yang dahulunya takut terhadapnya, mulai #tidak takut lagi. ancaman-ancaman tidak lagi diterimanya. Mereka dengan suka rela mulai mengemas barang-barang mereka dan mendaftarkan diri untuk tinggal di rusun, atau pulang kampung.