Semua juga tau, Semua pasti tau

Semua juga tau, Semua pasti tau

Semua juga tau, bahwa sebagai manusia kita tidak sempurna. Semua pasti tau bahwa menjadi manusia itu melewati proses tumbuh kembang; baik secara fisik maupun nilai. Oleh karena itu manusiawi saja bila manusia suatu ketika melakukan kesalahan. Para Fisuf punya adagium “Errare Humanum Est,”, Nabi mengatakan “Al Insanu Mahalul Khoto’ Wa Nisyan” yang maknanya “manusia adalah tempatnya salah dan lupa”. Maka bila ada manusia dewasa yang diperlakukan tidak pernah salah atau bertabiat seolah-olah tak bisa salah, maka sebetulnya ia selevel dengan bayi.

Lihatlah tidak ada orangtua yang membantah atau mempertanyakan perilaku bayi mengapa menangis atau buang air kecil. Bayi punya hak penuh melakukan apa keinginannya semau-maunya tanpa harus diprotes siapa saja.

Orang yang dipercaya tidak pernah melakukan kesalahan pastilah orang yang dilkultuskan. Mengapa pengkultusan begitu dilarang agama? Karena kultus individu itu merendahkan martabat manusia. Pengkutusan telah meletakkan manusia lainnya diatas haknya yang wajar menjadi manusia. Pengkultusan membuat hirarki manusia tidak duduk sama rendah atau berdiri sama tinggi lagi. Dalam kehidupan, profesi yang lazim dikultuskan ada dua yakni “Tokoh Spiritual atau Pemimpin Politik”. Itulah mengapa, tokoh spiritual disebut “ulama” yang artinya “orang yang berilmu”. Mereka yang disebut ulama itu otoritasnya haruslah sebatas hal yang “ilmiah” (keilmuan) bukan “diniyah” (keagamaan), wewenangnya ilmu (berdasar dalil) bukan spiritualitas (mengatasnamakan Tuhan). Ulama tidak boleh menjadi “tabir penghalang” hubungan langsung antara Tuhan dan hamba-hambaNya. Ulama adalah pewaris ajaran para Nabi, bukan pencipta hukum halal haram.

Demikian pula dengan pemimpin.

Dalam firmanNya, Tuhan mengatakan “Patuhi Allah, Patuhi Rasul & Pemimpin kamu”, menariknya tidak ada teks kata “Patuhi” kepada Pemimpin. Karena kepatuhan kita pada pemimpin kita bukan kepatuhan buta, tapi loyalitas kita pada nilai yang dia bawa dan bukan pada sosoknya.
Ada pepatah mengatakan, mengapa Fir’aun menjadi “Fira’un” (yang otoriter & tiranik) ? karena tidak seorangpun berani berkata “TIDAK” padanya.

Berlaku adilah kepada tokoh, dengan tidak mengkultuskannya. Siapapun dia orangnya, tak pernah ia benar selalu atau salah selalu.

Oleh : Ade Hashman

Ade Hashman, Jurnal, Opini, Tulisan