Sepotong Puisi yang meneteskan airmata

Sepotong Puisi yang meneteskan airmata

Surat buat anakku

Kala aku tua nanti,

Kuharap kau mengerti dan bersabar…

Semisal kupecahkan piring atau menumpahkan makanan di meja

Karena penglihatanku tak lagi sempurna

Kuharap kau tak memarahiku

Ketika pendengaranku makin buruk

Dan aku tidak mendengar dengan jelas perkataanmu

Tolong, jangan juluki aku tuli

Tapi ulangilah perkataanmu atau tuliskan diatas kertas

Maafkan aku nak, aku semakin tua

Ketika lututku melemah

Kuharap kau sabar menolongku untuk berdiri

Seperti aku dulu menolongmu saat kau kecil dan belajar berjalan

Bersabarlah denganku

Ketika aku mengulang-ulang perkataanku seperti kaset rusak

Kuharap kau tetap mendengarkanku

Jangan mengolokku atau bosan mendengarkanku

Ingatkah kau dikala kecil menginginkan sebuah balon ?

Kau mengulang-ulang perkataanmu hingga

Akhirnya kau dapatkan apa yang kau inginkan?

Juga maafkan aromaku

Bauku kini seperti bau orangtua

Kuharap aku tak membuatmu jijik

Ingatkah kau ketika kau kecil,

Aku kerap mengejarmu hanya untuk memaksa kau mandi

Nak…

Kuharap kau bersabar menghadapi dengan semua kerewelanku

Itu bagian perjalanan “menjadi tua”.

Kaupun akan paham ketika masamu tiba nanti

Dan ketika kau punya waktu luang

Kuharap kita dapat berbincang

Walau hanya untuk beberapa saat

Aku sendirian setiap saat

Tanpa teman berbagi rasa,

Aku tahu kau sibuk dengan pekerjaan dan duniamu

Namun bahkan ketika kau bosan dengan cerita usangku

Tolong kau luangkan waktumu untukku

Ingatkah kau ketika kecil,

Aku dengar celotehmu tentang duniamu

Nak,

Ketika tiba waktunya aku terbaring sakit dan terkulai tak berdaya

Semoga Allah berkahi engkau dengan kesabaran untuk mengurusku

Jelang-jelang masa terakhirku hidup didunia ini

Ya..aku tak akan lama lagi dikehidupan ini bersamamu

Nak, ketika kematian tiba menjemputku

Kuharap kau genggam tanganku dan

Allah berikan kekuatan bagimu menghadapi kematianku

(Terimakasih buat penulisnya.. yang anonim).