Van Gaal Dituduh Menjadikan Pemain MU Sebagai Robot

Van Gaal Dituduh Menjadikan Pemain MU Sebagai Robot

Tren.co.id – Pernyataan mantan pemain internasional Rusia itu hadir seminggu setelah Paul Scholes mengkritik taktis Van Gaal yang dianggap kurang kreativitas dan membosankan.

Namun, kritik Kanchelskis (46), jauh lebih keras dibandingkan Scholes, terutama setelah tim itu keluar dari kompetisi Piala Liga minggu lalu setelah ditahan imbang 0-0 oleh Middlesbrough. Hingga akhirnya Manchester United tersingkir melalui adu penalti 1-3.

Kanchelskis, yang menghabiskan empat musim bersama United dari 1991 sampai 1995, merupakan tonggak tim ketika manajer Alex Ferguson membawa mereka mengakhiri penantian 26 tahun dengan merangkul kejuaraan Liga Inggris musim 1992-1993.
Dia turut hadir ke Old Trafford untuk menyaksikan mantan klub lamanya itu bermain imbang 1-1 dengan CSKA Moskow di Liga Champions pada 21 Oktober, dan menggambarkan permainan buruk yang dipertontonkan The Red Devils .

“Van Gaal terlalu pragmatis, pemainnya bermain seperti robot. Mereka terlalu terikat dengan perintah yang ketat, mereka tidak diperbolehkan melakukan gerakan spontan dan sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Ferguson bersama kami. Memang Van Gaal pelatih yang bagus, tetapi menurut saya, dia tidak cocok untuk melatih Manchester United. Saya telah mengawasinya pada dua musim berturut-turut.

“Dia ingin melakukan transformasi tetapi sebenarnya saya masih tidak mengerti apa yang ia coba lakukan. Dia sendiri tidak tahu apa yang diinginkan, tidak ada pemain yang kreatif, tidak ada sayap dan tidak ada yang mampu memberi dukungan kepada Wayne Rooney.

“Skuad Manchester United sekarang sama sekali tidak sama dengan skuad bimbingan Ferguson,” kata mantan pemain sayap itu kepada media Rusia, Sport Express.

Menurut Kanchelskis lagi, dalam pertandingan melawan CSKA, United menampilkan permainan yang sangat buruk dan sangat mustahil untuk mencatat kemenangan.

“Saya berada di stadion dan terkejut melihat betapa buruknya United beraksi dilapangan pada babak pertama. Banyak mengontrol bola, namun tidak tajam.

“Pada babak kedua, kondisi sedikit lebih baik karena Bastian Schweinsteiger, yang merubah pola permainan menjadi lambat. Saya rasa United bukan tim yang sesuai dengannya.
“Sudah menjadi tradisi dan sejarah Manchester United untuk bermain secara terbuka dan tajam di bagian sayap, tetapi keadaan itu tidak lagi berlaku sekarang ini.

“Ya pertukaran pada babak kedua sangat efektif. Marouane Fellaini adalah pemain yang bagus, kalau kita pintar mengatur pemain ini dengan benar dia akan menjadi sangat berguna bagi tim, “katanya lagi.

Sebelumnya, Van Gaal tidak mengabaikan kritik Scholes, bahkan menganggap mantan bintang Inggris itu mengeluarkan pernyataan tersebut karena dibayar oleh stasiun televisi.

Namun, serangan terbaru yang diluncurkan Kanchelskis mungkin sulit ditepis oleh pelatih kelahiran Belanda itu, apalagi mantan pemain Everton dan Manchester City tersebut tidak memiliki agenda.

Kanchelskis bahkan mengklaim, kampanye United musim ini banyak tergantung kepada kiper David De Gea, yang seringkali menyelamatkan gawang atas upaya serangan lawan.

“Mereka selamat karena Dea Gea bermain sangat baik dalam tim. Jika dia jadi meninggalkan Manchester United dan bergabung dengan Real Madrid, situasi mungkin akan lebih parah. Dia seorang kiper yang hebat, dia melakukan banyak penyelamatan bagi tim, “katanya.